Selasa, 31 Maret 2015


A.    PLATO (427-347 SM)
Plato lahir di Athena tahun 427 SM. Ia murid sekaligus sahabat diskusi socrates. Selain dikenal sebagai murid socrates dan gurunya Aristoteles, Plato dikenal sebagai salah seorang filsuf Yunani yang sangat berpengaruh. Karyanya yang paling terkenal adalah Republic (dalam bahasa Yunani: Politeia, “negeri”). Dalam bukunya ini dia menguraikan garis besar pandangannya pada keadaan “ideal” dia juga menulis “Hukum” dan banyak dialog.
Sumbangsih  Plato yang terpenting tentu saja adalah gagasannya mengenai  ide. Meskipun begitu, bukan berarti yang lain tidak penting, sebab, gagasan ide berkait berkelindan dengan gagasan-gagasan Plato lainnya. Menurutnya, dunia fana ini tidak lain hannyalah refleksi atau bayangan dari pada dunia ideal. Di dunia ideal semuannya sangat sempurna. Hal ini tidak hannya merujuk pada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai “kebajikan” dan “kebenaran”. Salah satu perumpamaan Plato yang termahsur adalah tentang perumpamaan orang du gua.
Dalam beberapa pemikirannya ia memperkuat pendapat gurunya dalam menghadapi kaum sophisme. Sebagaimana Socrates , ia menggunakan metode dialog untuk mengantarkan Filsafatnya. Namun kebenaran Umum (definnisi), menurutnya bukan dibuat dengan cara dialig yang indukatif sebagaimana cara Socrates. Pengertian umum (definisi) menurut Plato sudah tersedia di sana di alam idea.
Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan warna-warni. Semua itu adalah bayangan dari dunia idea. Sebagai bayangannya, hakikatnya hanyalah tiruan dari yang asli yaitu idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan dari yang asli yakni  idea. Karenanya, dunia pengalaman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurnadari idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, dibawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakan dunia. Berikutnya idea keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, dan politik
Dengan demikian, jelaslah bahwa kebenaran umum itu memang sudah ada, bukan dibuat melainkan sudah ada di dalam idea. Manusia dulu berada di dunia idea bersama-sama dengan idea-idea lainnya dan mengenalinyua. Jiwa manusia di dunia nyata ini terkurung oleh ruh sehingga kurang ingat lagi hal-hal yang dulu pernah dikenalnya di dunia idea. Dengan kata lain, pengertian manusia yang membentuk pengetahuan tidak lain adalah dari ingatan manusia tentang apa yang pernah dikenalinya atau mengerti karena ingat.
Sebagai konsep dari pandangannya tentang dunia idea, dalam masalah etika ia berpendapat bahwa orang berpengetahuan dengan berpengertian bermacam-macam sampai pengertian tentang idenya  dengan sendirinya akan berbuat baik. Budi adalah tahu, siapa yang tahu akan yang baik, cinta kepada idea, menuju kepada yang baik. Siapa yang hidup di dunia idea tidak akan berbuat jahat.



1.      Latar Belakang Kehidupan Plato
Plato adalah filsuf berpengaruh Yunani. Ia adalah murid socrates yang sangat pintar. Tempat dan tahun kelahirannya Plato yang sesunggunya tidak diketahui dengan pasti. Ada yang mengatakan Plato lahir di Athena, ada juga yang mengatakan ia lahir di Pulau Aegina. Demikian juga denga tahun kelahirannya, ada yang mengatakan ia lahir pada tahun 427 SM. Pastinya, Plato lahir dari keluarga Aristokrat Athena yang turun temurun memiliki peranan yang sangat penting dalam dunia politik di Athena.
Ayahnya bernama Ariston, seorang bangsawan keturuna Raja Kodrus, raja terakhir Athena (yang hidup sekitar 1068 SM) yang sangat dikagumi rakyat karena kecakapan dan kebijaksanaanya memerintah pada masa itu. Ibunya bernama Periktione keturunan Solon, tokoh legendaris dan negarawan yang  agung Athena yang hidup sekitar seratus tahun lebih awal dari Periktione. Namun Plato sebenarnya adalah Aristokles. Karena dahi dan bahunya yang amat lebar, ia memperoleh julukan “Plato” dari seorang pelatih senamnya.
Plato dalam bahasa Yunani berasal dari kata benda “platos” yang berarti “kelebaran”Atau lebar. Dengan demikian, namun “Plato” berarti “si lebar”. Nama itu begitu cepat populer, hingga kemudian menjadi nama resmi yang diabadikan lewat seluruh karya-karyanya. Plato adalah pengikut Socrates yang taat dan yang mempunnyai pengaruh besar. Selain dikenal sebagain ahli pikir, ia juga dikenal sebagai sastrawan. Tulisannya sangat banyak, sehingga keterangan tentang dirinya pun dapat diperoleh dengan mudah. Pada usia 40 tahun ia mengunjungi Italia dan Sicilia, untuk belajar ajaran Pythagoras. Disamping itu, ia juga punnya misi mempengaruhi Raja Dionysios I di kota Sirakus, Sicilia. Namun, ia gagal total dan hampir saja dijual sebagai budak di pasar kota Aegina andaikata tidak kebetulan dilihat dan ditebus oleh seorang temannya. Plato ahirnya kembali ke Athena.
Di Athena, Plato mendirikan sekolah yang dinamakan Akademia, karena berdekatan dengan kuil Akademos seorang pahlawan Athena. Ia memimpin sekolah tersebut selama 40 tahun. Ia memberikan pengajaran secara baik dalam bidang ilmun pengetahuan dan filsafat, terutama bagi orang-orang yang akan menjadi politikus.
Selama hidupnya, Plato rajin menulus. Hampir semua tulisan Plato berupa dialog; dalam dialog itu umumnya Plato memakai Socrates untuk mengemukakan pandangan-pandangannya. Semua karya Plato, lebih dari 25 jumlahnya, masih kita miliki. Yang paling terkenal adalah 10 buku (atau bab) yang memuat ajaran Plato tentang Politeia (negara). Tulisan-tulisannya itu amat berpengaruh bagi pemikiran Eropa selanjutnya.
 Sebagai titik tolak pemikiran Filsafatnya, ia juga mencoba menyelesaikan permasalahan lama: mana yang benar antarayang berubah-ubah atau yang tetap. Mana yang benar antara pengetahuan yang lewat indra dengan pengetahuan yang lewat akal. Pengetahuan yang diperoleh lewat indra disebutnya pengetahuan indra atau pengetahuan pengalaman. Sedangkan pengetahuan yang diperoleh lewat akal disebut pengetahuan akal. Pengetahuan indra atau pengetahuan pengalaman bersifat tidak tetap atau berubah-ubah, sedangkan pengetahuan akal bersifat tetap atau tidak berubah-ubah.
Sebagai penyelesaian persoalan yang dihadapi Plato tersebut, ia menerangkan bahwa manusia itu sesungguhnya berada dalam dua dunia, yaitu; dunia pengalaman yang bersifat tidak tetap, bermacam-macam dan berubah dan dunia ide yang bersifat tetap, hanya satu macam yang tidak berubah. Dunia pengalaman merupakan bayang-bayang dari dunia ide. Sedangkan dunia ide merupakan dunia yang sesungguhnya, yaitu dunia realitas dan dunia inilah yang menjadi “model’ dunia pengalaman. Dengan demikian, dunia yang sesungguhnya atau dunia realitas itu adalah dunia ide.
Tentang Tuhan, Plato mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah bagi manusia yang tidak pantas apabila tidak mengetahuinya, yaitu:
1)      Manusia itu mempunnyai Tuhan sebagai penciptanya.
2)      Tuhan itu mengetahui segala sesuatu yang diperbuat manusia
3)      Tuhanlah yang menjadikan alam ini dari tidak mempunnyai peraturan menjadi mempunnyai peraturan.

Menurut Plato, di dalam negara yang ideal terdapat golongan, yaitu:
1)      Golongan yang tertinggi, terdiri dari orang-orang yang memerintah ( para ingtelektual, para cendekiawan,para Filsuf).
2)      Golongan pembantu terdiri dari para prajurit, yang bertugas untuk menjaga keamanan negara dan menjaga ketaatan warganya.
3)      Golongan rakyat biasa, terdiri dari petani, pedagang, tukang yang bertugas untuk memikul ekonomi begara.
B.     Sumber Filsafat Plato
Guru filsafat yang amat dikagu7mi, dihirmati, dan dicintai Plato ialah Socrates. Bagi Plato, Socrates adalah guru sekaligus sahabat. Karena itu, tak heran jika hampir seluruh karya filsafatnya menggunakan “metode sokratik”, yaitu metode yang dikembangkan oleh Socrates yang dikenal dengan nama metode dialektual “elenkus”. Metode  tersebut terwujud dalam suatu bentuk “tanya jawab” atau dialog sebagai suatu upaya untuk meraih kebenaran dan pengetahuan. Dari Socrateslah Plato mengenal nilai-nilai kesusilaan yang menjadi norma-norma dalam diri dan kehidupan manusia dan etika saja lewat filsafat, untuk kenudia digunakannya untuk mengetahui segala sesuatu dan menetapkan hakikat dari segala sesuatu itu.
Tetapi pada sisi lain, Socrates tidak memberikan kontribusi langsung bagi perkembangan teori politik Plato. Ia tertarik pada individu, dan secara insidental memiliki keterkaitan pada negara sebagaui lembaga politik. Secara tidak langsung warisannya pada filsafat ada tiga; tegaknya p0engujian realitas secara indukatif, formulasi doktrin bahwa kebaikan adalah pengetahuan, dan ajarannya bahwa ada tahanan intelektual dan moral yang bisa ditemukan manusia.
Plato juga dioengaruhi oleh filsuf sebelumnya yang dikenal dengan filsuf pra-sokratik. Sebelum Socrates. Plato telah belajar filsafat dari Kratilos. Kratilos adalah murid dari Heraklitos, si gelap (Ho Skoteinas), yang meraih gelar demikian itu karena pemikiran filsafatnya yang sulit dipahami. Selain itu, filsafat Plato juga dipengaruhi oleh ajaran para sophis, walaupun lebih banyak secara negatif, yakni merupakan kecaman terhadap pemikiran para sophis itu.
C.    Dunia Ide
Seluruh filsafat Plato bertumpu pada ajaran tentang dunia ide. Karenanya, ia dinobatkan sebagai pemikir idealisme, bukan realisme ataupun empirisme. Plato percaya bahwa ide adalah realitayang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal dengan panca indera. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang hampir berada di dalam pemikiran manusia.
Sebagai realitas yang sebenarnya, kata Plato, ide bersifat subjektif. Keberadaan ide tidak tergantung pada daya pikir manusia; ide itu mandiri, sempurna, abadi, dan tidak berubah-ubah. Untuk menjelaskan pikiran filosofinya, Plato membelah realitas menjadi dua. Pertama, dunia ide. Kedua, dunia bayang-bayang atas jasmani.
Dunia ide adalah dunia kodrati, bersifat kekal dan abadi , sementara dunia bayang-bayang adalah penampakan, cerminan, copy, bayangan dari dunia ide. Apabila dunia bayang-bayang atau jasmani musna, maka di dunia ide sesuatu itu masih ada. Pengetahuan di dunia ide tidak akan musnah dengan musnahnya dunia jasmani pengetahuan di dunia ide akan tetap abadi selamanya.
Dengan membagi realitas menjadi dua ini, Plato berusaha mempertemukan antara filsafat ada (parmenidas) dan filsafat menjadi (Heraktilos). Ambil contoh pohon. Misalnya. Melalui akal budi, ide pohon itu dapat dipahami, sedang melalui kesaksian indra, terdapatbermacam-macam jenis dan bentuk pohon. Di dunia ide, hanya dikenal ide tentang pohon (satu dan tetap), tetapi di dunia realitas terdapat perbedaan, perubahan, dan perkembangan bermacam-macam jenis pohon. Demikian halnya dengan manusia. Dalam dunia jasmani, dikenal bermacam-macam jenis manusia, tetapi di dunia ide, hanya ada satu, yaitu ide tentang manusia. Manusia sebagai makhluk jasmani,pasti akan mati, dan karena itu musnah. Tetapi di alam ide manusia akan tetap abadi.
D.    Perumpamaan Gua
Untuk memahami filsafat tentang idea itu, kita dapat menggunakan sebuah perumpamaan yang dapat ditemukan dalam buku ketujuh politeia, yaitu “perumpamaan tentang gua”. Bayangkan sebuah gua yang didalamnya terdapat sekelompok tehanan yang tidak dapat memutarkan badan, duduk, menghadap tembok belakang gua. Di belakang para tahanan itu, di antara mereka dan pintu masuk, ada api besar. Diantara api dan tahanan (yang membelakangi mereka) ada budak-budak yang membawa berbagai benda, patung dan lain-lain. Yang dapat dilihat oleh para tahanan hannyalah bayangan dari benda-benda itu, mereka berpendapat bahwa bayang-bayang itu adalah realitas sesunggunya. Ia berpaling dan melihat benda-benda yang dibawa oleh para budak dan api itu. Sesudah ia keluar dari gua dan matanya membiasakan diri pada cahaya. Ia melihat pohon, rumah, dan dunia nyata di luar gua. Paling akhir ia melihat keatas dan  melihat matahari yang menyinari semuanya. Akhirnya ini mereka mengerti apa yang dianggap realitas. Ternyata hanyalah bayang-bayang dari bena-benda yang sesungghnya yang berada diluar gua. Namun, ketika ia kembali ke dalam gua dan mengajak para tahanan lainnya untuk ikut keluar, mereka malah marah dan tidak mau meninggalkan gua.
            Dengan perumpamaan gua ini, Plato mau memeperlihatkan bahwa apa yang pada umumnya dianggap kebenaran masih jauh sekali dari kenyataan yang sebenarnya, dan hanya kalau manusia berani membebaskan diri dari belenggu-belenggunya dan  keluar dari gua itulah ia akan sampai pada kenyataan yang sesungguhnya.
            Plato dengan mengikuti pytagoras, membagi manusia terdiri atas iwa dan badan. Badan adalah wadah (atau makam) jiwa. Realitas yang sebenarnya adalah jiwa. Badan hanya bersifat sementara, tetapi jiwa adalah abadi. Jiwa manusia sendiri merupakan sebuah idea dan mempunnyai eksitensi sebelum turun kedalam badan, karena itu, melalui daya ingat (anamnesis) manusia dapat memahami alam idea itu. Ia seakan-akan ingat kembali akan apa yang dulunya dilihat sendiri. Idea-ide itulah yang dilihat manusia diluar gua.
            Apabila orang yang keluar dari gua sudah membiasakan diri pada suasana terang benderang di alam bebas. Ia akhirnya menyadari bahwa apapun yang dilihatnya bisa dilihatnya karena disinari matahari. Ia mengangkat matanya ke matahari. Dengan demikian, Plato menggambarkan puncak kesadaran Filosofis: itulah kesadaran bahwa idea-idea sendiri terarah pada satu idea beru yang membuat semua idea itu diminati, yaitu idea yang baik (the idea of good). Idea yang baik adalah sang baik itu sendiri, realitas tertinggi, sang baik itu adalah tujuan (telos) dari segala yang ada, segala yang ada mempunnyai dinamika batin, dinamika hakiki mereka, menuju sang baik itu. Begitu pula manusia,dalam batinnya ia tertarik kepada tujuannya yang paling tinggi, yaitu idea yang baik itu. Memandang idea yang baik merupakan kebahagiaan yang tertinggi.
E.     Pemikiran Politik Plato
Tidak ada penulis klasik yang lebih sering dikutip pemikirannya oleh komentator politik modern dari pada Plato. Pemikirannya masih memiliki relevensi, elan vital dan sejalan dengan pemikiran kontemporer saaat ini. Hal yang penting untuk diketahui dari filsafat politik Plato adalah pemikiran dia tentang negara. Etika politik yang banyak digaungkan oleh tokoh politik seperti Amien Rais dengan high politics-nya, atau oleh akademisi Haryatmoko melalui bukunya Etika Politik dan Kekuasaan (2003) , ternyata Plato beberapa abad lalu telah melontar lebih dulu dengan menyatakan bahwa etika politik harus menjadi bagian integral politik dan perlu dikedepankan.
            Menurutnya, dalam tiap-tiap negara, segala golongan dan segala orang-orang adalah alat semata-mata untuk kesejahteraan semuanya. Kesejahteraan semuanya itulah yang menjadi tujuan yang sebenarnya, dan itupulalah yang menentukan nilai pembagian pekerjaan. Dalam negara yang ideal itu golongan pengusaha menghasilkan, tatapi tidak memerintah. Golongan penjaga melindungi, tetapi tidak memerintah. Golongan cerdik pandai diberi makan dan dilindungi dan mereka memerintah.
            Ketiga macam budi yang dimiliki oleh masing-masing golongan, yakni bijaksana, berani, dan menguasai diri, itu dapat menyelenggarakan dengan kerja sama budi keempat bagi masyarakat yaitu keadilan. Oleh karena negara ideal bergantung kepada budi penduduknya, pendidikan menjadi urusan yang terpenting bagi negara. Menurut Plato, pendidikan anak-anak dari umur 10 tahunke atas menjadi urusan negara. Supaya mereka terlepas dari pengaruh orang tuanya. Dasar yang terutama bagi pendidikan anak-anak ialah Gymnastik menyehatkan badan dan pikiran. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang berani, yang diperlukan bagi calon penjaga. Di sebelah itu diberikan pelajaran membaca, menulis, berhitung seperlunya.
            Dari umur 14-16 tahun, anak-anak diajarkan musik dan puisi serta mengarang bersajak. Musik menanam perasaan yang halus dalam jiwa manusia, budi yang halus. Karena musik, jiwa kenal akan harmoni dan irama. Keduanya adalah landasan yang baik untuk menghidupkan rasa keadilan. Tetapi perlu dicatat, dalam pendidikan musik harus dijauhkan lagu-lagu yang melemahkan jiwa dan yang mudah menimbulkan nafsu buruk. Begitu juga tentang puisi. Puisi yang merusak moral disingkirkan. Pendidikan musik dan gymnastic harus sama dan seimbang.
            Dari umur 16-18 tahun, anak-anak yang menjelang dewasa diberi pelajaran matematika untuk mendidik jalan pikirannya. Selain itu, mereka juga diajari dasar-dasar agama dan adab sopan, supaya dikalangan mereka tertanam rasa persatuan. Plato mengatakan bahwa suatu bangsa tidak akan kuat kalau ia tidak percaya pada Tuhan. Seni yang memurnikan jiwa dan perasaan tertuju kepada yang baik dan yang indah. Diutamakan untuk diajarkian kepada mereka, sementara dri umur 18-20 tahun, pemuda mendapat didikan militer.
            Pada umur 20 tahun diadakan seleksi pertama. Murid-murid yang maju dalam ujian itu mendapat didikan ilmiah yang mendalam dalam bentuk yang teratur. Pendidikan otak, jiwa, dan badan sama beratnya. Setelah menerima pendidikan ini selam 10 tahun maka diadakan seleksi yang kedua, yang syaratnya lebih berat dan caranya lebih teliti dari seleksi yang pertama. Yang gagal dapat diterima sebagai pegawai negeri. Yang maju dan sedikit jumlahnya meneruskan pelajarannya lima tahun lagi dan dididik dalam ilmu pengetahuan tentang idea dan dialektika.
            Setelah tamat pelajaran itu, mereka dapat memangku jabatan yang lebih tinggi. Kalaumereka sudah 15 tahun bekerja dan mencapai umur 50 tahun, mereka diterima masuk dalam pengalaman mereka dalam teori dan praktik sudah dianggap cukup untuk melaksanakan tugas yang tertinggi dalam negara:menegakan keadilan berdasarkan idea kebaikan. Seperti sudah dikemukakan sebelumnya, bahwa penduduk negara dapat dibagi menjadi tiga golongan teratas, tengah dan terbawah. Golongan yang teratas ialah golongan yang memerintah. Terdiri dari para filsuf. Mereka bertujuaan membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaannya dan mereka memegang kekuasaan tertinggi. Golongan ini harus memiliki budi kebijaksanaan.
            Sebelum para filsuf menjadi penguasa,negeri-negeri sulit untuk menghindar dari kejahatan-kejahatan. Golongan menegah adalah para pegawai dan abdi negara. Tugas mereka adalah mempertahankan negara dari serangan musuh dan menegakan berlakunya undang-undang supaya dipatuhisemua rakyat. Golongan ketiga adalah golongan terbawah atau rakyat pada umumnya. Mereka adalah kelompok yang produktif dan harus pandai membawa diri.
            Konsepsi untuk menciptakan suatu negara ideal merupakan implikasi filosofis dan doktrinnya tentang idea. Tujuan hidup Plato dapat dilihatdari obsesinya tentang wujud sebuah negara yang ideal, teratur serta mencakup didalam masyarakat yang berpendidikan. Pandangan negara ideal ini dicetuskan oleh Plato setelah melihat sistem pemerintah Athena di zamannya yang kurang stabil disebabkan sering berganti-gantinya sistem Aristokrasi. Oligarki maupun demokrasi yang cenderung kurang memberikan kebahagiaan bagi masyarakat.

Menurut Plato, sistem pemerintah haruslah didasari oleh idea yang tertinggi yaitu idea kebaikan, kemauan untuk melaksanakan itu tergantung pada budi. Tujuan pemerintahan yang benar ialah mendidik warga negara mempunnyai budi yang hanya bersumber dari pengetahuan. Oleh karena itu, ilmu harus berkuasa di dalam suatu negara. Itulah sebabnya Plato menyatakan bahwa kesengsaraan dunia tidak akan berakhir sebelum filosof menjadi raja atau raja-raja menjadi filosof. Kita, kata Plato, tidak dapat mengharapkan negara menjadi lebih baik apabila orang-orang yang berkuasa tidak berperilaku baik.
Oleh karena itu, negara harus bebas dari para penguasa dan para pemimpin yang rakus dan jahat. Dalam negara ideal Plato, semua orang harus hidup denga moralitas yang baik dan terpuji. Apalagi mereka yang berkuasa dan yang memerintah, bukan saja harus memiliki keempat kabajikan pokok yang mengendalikan dan yang menuntun ketiga bagian jiwa mereka yang sebenarnya, merupakan karakter dan sifat-sifat dasar dari moralitas dasar dan terpuji itu.
Dalam konteks semacam ini, hanya orang-orang yang sanggup berpikir secara filsafati yang dapat disebut arif dan bijaksana serta hanya kepada ornag-orang yang demikian itulah segala macam urusan pemerintah dapat dipercayakan. Hukum merupakan sebagian dari pengetahuan yang dimiliki oleh filsuf. Oleh sebab itu, ia tidak tunduk pada hukum. Hukum  memang baik bagi yang diperintah sejauh ia dinilai baik oleh filsuf raja. Filsuf raja adalah orang bijaksana yang memiliki moralitas dan pengetahuan yang tinggi maka tidaklah beralasan bagi seseorang untuk merasa khawatir bahwa pada suatu saat nanti para filsuf raja akan menyalahgunakan kebebasannya (abuse of power) terhadap hukum tersebut.
Itulah sebabnya di dalam karya Republic tidak tampak adannya upaya Plato untuk menyusun undang-undang tertulis. Sikap Plato yang demikian itu merupakan akibat logis dari filsafatnya. Sebab, apabila pengetahuan yang dinobatkan menjadi yang mulia, yang berada diatas tahta pemerintahan maka segala sesuatu yang lain termasuk hukum haruslah turun kedudukan selaku pembantu dari pihak yang berada diatas tahta itu. Menurut Plato, kebenran ilmu politik meskipun cukup subjektif, perlu dipelajari sebagai bahan perbandinagn atas ilmu-ilmu lainnya. Sebagian besar dari para filsuf memang membahas filsafat politik. Tokoh utamanya adalah Plato, walaupun beliau mempunyai guru dan murid. Plato menerima ajaran guru besarnya Socrates dan Pytagoras yang masing-masing mengajarkan bahwa:
“kebajikan itu berisi pengetahuan tentang yang baik-baik. Oleh karena itu, bagaimana membangun negara dan pemerintahan agar didalamnya orang tertarik pada kebajikan tersebut, dengan demikian pelaksanaan pemerintahan mengacu pada agama, kepercayaan yang transedental ruhaniah, dan metafisika."
Kebajikan itu abstrak sifatnya, tetapi ilmu pengetahuan tentang yang abstrak lebih nyata dibandingkan ilmu pengetahuan yang terwujud di dunia empiris, sekalipun hal itu adalah pengalaman yang terlihat dan merupakan realita yang bisa ditangkap dengan indah karena pendapat ini tidak bertolak belakang.
dalam bukunya Republik, Platomengemukakan postulas utopia pertama memiliki kekuatan nalar yang besar dan kekuasaaan untuk memerintah. Dalam buku tersebut, Plato malah menguraikan lebih dahulu mengenai keadilan. Pertama-tama , Plato mengemukakan bahwa keadilan merupakan kebijakan penting sebuah negara yang sama pentingnya dengan kebijaksanaan individu. Karenanya , Plato menegaskan bahwa hakikat keadilan daan ketidakadilan harus dilacak demi menegakan imperium yang bernama negara secara sempurna.
Lebih dari itu, Plato juga membicarkan tentang bentuk pemerintahan ideal yang ditandai dengan kebenaran sebagai realtias sesungguhnya dan seharusnya ia mengikuti kenyataan. Jadi. Bila kita menafsirkan teori ini, terjadinya penindasan, pemerkosaaan, dan perampokan, dll terjadi. Dalam benak Plato tersimpan pemikiran yang bersumber dari pengalaman nyata tatkala menyaksikan gurunya, Socrates, dipaksa minum racun. Lalu, ia menyimpulkan bahwa pemerintah yang berkuasa pada saaat itu sangat buruk, sebab gurunya yang paling bijak., jujur, dan baik malah dibunuh dengan memaksanya meminum racun. Darilatar  masalah inilah lalu keluar teori-teori besarnya tentang negara ideal.
Paradigma inikemudian bergeser ke arah yang lebih rasionalis, hingga memunculkan beragam pertannyaan kritis, antra lain:”Apakah kecerdasan itu berasal dari tuhan?”, Mengapa tuhan memisahkan diri dari kehidupan?”,”Mengapa Tuhan menciptakan keburukan?”Plato sendiri sebenarnya sadar bahwa alam pemikirannya ini tidak dapat direalisasikan dalam kenyataan politik pemerintah. Dalam perjalanan masa yang panjang ini, hanya seketika masyarakat dapat mempertahankan diri dalam keadaan yang adil dan seperti biasanya, setelah itu semakin merosok dan akhirnya runtuh. Sama halnya para sejarawan menyimpulkan bahwa fase kehidupan manusia dimulai sejak masa lahir, remaja, dewasa, kemudian mati.
Namun demikian, Plato sudah berusaha mencoba menunda proses keruntuhan itu dengan berbagai buah pikirannya. Muridnya sendiri, Aristoteles, sudah berpendapat bahwa kebenaran itu hanya sebjektif sifatnya. Oleh karena itu, benar bagi satu pihak, belum tentu benar bagi pihak lain. Sebab, pendapat dipengaruhi pikiran dan latar sosio-historis dengan segudang perbedaan dalam berbagai dimensi ruang dan waktu yang melingkupinya. Itulah barangkali yang membuat Aristoteles menyetujui dan merendahkan kaum wanita.

Last but not lest, dalam buku ini yang perlu diapresiasi lebih lanjut adalah pemikiran politik Plato tentang Raja Filsuf, Raja perdana menteri atau presiden seharusnya dipilih dari kalangan filsuf. Ya . filsuf menjadi Raja. Namun , jangan dipahami secara taken fron granted bahwa seorang pemimpin negara harus berwacana saja, lebih dariitu dia harus bijak, adil, dan tertindas. Penghormatan Plato bagiseorang filsuf hingga jadi Raja memang luar biasa akhirnya ia pernah berkata bahwa “ Negara akan mendirikan berbagai monumen untuk menghormati negara mereka (raja filsuf). Dan berbagai pengorbanan akan dipersembahkan untuknya, karena mereka adalah orang-orang setengah dewa, karena mereka orang-orang yang diberkahi, yang Kudus yang diberkahi Kudus 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar