A. PLATO
(427-347 SM)
Plato
lahir di Athena tahun 427 SM. Ia murid sekaligus sahabat diskusi socrates.
Selain dikenal sebagai murid socrates dan gurunya Aristoteles, Plato dikenal
sebagai salah seorang filsuf Yunani yang sangat berpengaruh. Karyanya yang
paling terkenal adalah Republic (dalam bahasa Yunani: Politeia, “negeri”).
Dalam bukunya ini dia menguraikan garis besar pandangannya pada keadaan “ideal”
dia juga menulis “Hukum” dan banyak dialog.
Sumbangsih
Plato yang terpenting tentu saja adalah gagasannya mengenai ide. Meskipun
begitu, bukan berarti yang lain tidak penting, sebab, gagasan ide berkait
berkelindan dengan gagasan-gagasan Plato lainnya. Menurutnya, dunia fana ini
tidak lain hannyalah refleksi atau bayangan dari pada dunia ideal. Di dunia
ideal semuannya sangat sempurna. Hal ini tidak hannya merujuk pada
barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep
pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai “kebajikan” dan
“kebenaran”. Salah satu perumpamaan Plato yang termahsur adalah tentang
perumpamaan orang du gua.
Dalam
beberapa pemikirannya ia memperkuat pendapat gurunya dalam menghadapi kaum
sophisme. Sebagaimana Socrates , ia menggunakan metode dialog untuk
mengantarkan Filsafatnya. Namun kebenaran Umum (definnisi), menurutnya bukan
dibuat dengan cara dialig yang indukatif sebagaimana cara Socrates. Pengertian
umum (definisi) menurut Plato sudah tersedia di sana di alam idea.
Menurut
pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu
berubah-ubah dan warna-warni. Semua itu adalah bayangan dari dunia idea.
Sebagai bayangannya, hakikatnya hanyalah tiruan dari yang asli yaitu idea.
Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan dari yang asli yakni idea.
Karenanya, dunia pengalaman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah
merupakan tiruan yang tidak sempurnadari idea yang tertinggi adalah idea
kebaikan, dibawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakan dunia. Berikutnya idea
keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, dan politik
Dengan
demikian, jelaslah bahwa kebenaran umum itu memang sudah ada, bukan dibuat
melainkan sudah ada di dalam idea. Manusia dulu berada di dunia idea
bersama-sama dengan idea-idea lainnya dan mengenalinyua. Jiwa manusia di dunia
nyata ini terkurung oleh ruh sehingga kurang ingat lagi hal-hal yang dulu pernah
dikenalnya di dunia idea. Dengan kata lain, pengertian manusia yang membentuk
pengetahuan tidak lain adalah dari ingatan manusia tentang apa yang pernah
dikenalinya atau mengerti karena ingat.
Sebagai
konsep dari pandangannya tentang dunia idea, dalam masalah etika ia berpendapat
bahwa orang berpengetahuan dengan berpengertian bermacam-macam sampai
pengertian tentang idenya dengan sendirinya akan berbuat baik. Budi
adalah tahu, siapa yang tahu akan yang baik, cinta kepada idea, menuju kepada
yang baik. Siapa yang hidup di dunia idea tidak akan berbuat jahat.
1. Latar
Belakang Kehidupan Plato
Plato
adalah filsuf berpengaruh Yunani. Ia adalah murid socrates yang sangat pintar.
Tempat dan tahun kelahirannya Plato yang sesunggunya tidak diketahui dengan
pasti. Ada yang mengatakan Plato lahir di Athena, ada juga yang mengatakan ia
lahir di Pulau Aegina. Demikian juga denga tahun kelahirannya, ada yang
mengatakan ia lahir pada tahun 427 SM. Pastinya, Plato lahir dari keluarga
Aristokrat Athena yang turun temurun memiliki peranan yang sangat penting dalam
dunia politik di Athena.
Ayahnya
bernama Ariston, seorang bangsawan keturuna Raja Kodrus, raja terakhir Athena
(yang hidup sekitar 1068 SM) yang sangat dikagumi rakyat karena kecakapan dan
kebijaksanaanya memerintah pada masa itu. Ibunya bernama Periktione keturunan
Solon, tokoh legendaris dan negarawan yang agung Athena yang hidup
sekitar seratus tahun lebih awal dari Periktione. Namun Plato sebenarnya adalah
Aristokles. Karena dahi dan bahunya yang amat lebar, ia memperoleh julukan
“Plato” dari seorang pelatih senamnya.
Plato
dalam bahasa Yunani berasal dari kata benda “platos” yang berarti
“kelebaran”Atau lebar. Dengan demikian, namun “Plato” berarti “si lebar”. Nama
itu begitu cepat populer, hingga kemudian menjadi nama resmi yang diabadikan
lewat seluruh karya-karyanya. Plato adalah pengikut Socrates yang taat dan yang
mempunnyai pengaruh besar. Selain dikenal sebagain ahli pikir, ia juga dikenal
sebagai sastrawan. Tulisannya sangat banyak, sehingga keterangan tentang
dirinya pun dapat diperoleh dengan mudah. Pada usia 40 tahun ia mengunjungi
Italia dan Sicilia, untuk belajar ajaran Pythagoras. Disamping itu, ia juga
punnya misi mempengaruhi Raja Dionysios I di kota Sirakus, Sicilia. Namun, ia
gagal total dan hampir saja dijual sebagai budak di pasar kota Aegina andaikata
tidak kebetulan dilihat dan ditebus oleh seorang temannya. Plato ahirnya
kembali ke Athena.
Di
Athena, Plato mendirikan sekolah yang dinamakan Akademia, karena berdekatan
dengan kuil Akademos seorang pahlawan Athena. Ia memimpin sekolah tersebut
selama 40 tahun. Ia memberikan pengajaran secara baik dalam bidang ilmun
pengetahuan dan filsafat, terutama bagi orang-orang yang akan menjadi
politikus.
Selama
hidupnya, Plato rajin menulus. Hampir semua tulisan Plato berupa dialog; dalam
dialog itu umumnya Plato memakai Socrates untuk mengemukakan
pandangan-pandangannya. Semua karya Plato, lebih dari 25 jumlahnya, masih kita
miliki. Yang paling terkenal adalah 10 buku (atau bab) yang memuat ajaran Plato
tentang Politeia (negara). Tulisan-tulisannya itu amat berpengaruh bagi
pemikiran Eropa selanjutnya.
Sebagai
titik tolak pemikiran Filsafatnya, ia juga mencoba menyelesaikan permasalahan
lama: mana yang benar antarayang berubah-ubah atau yang tetap. Mana yang benar
antara pengetahuan yang lewat indra dengan pengetahuan yang lewat akal.
Pengetahuan yang diperoleh lewat indra disebutnya pengetahuan indra atau
pengetahuan pengalaman. Sedangkan pengetahuan yang diperoleh lewat akal disebut
pengetahuan akal. Pengetahuan indra atau pengetahuan pengalaman bersifat tidak
tetap atau berubah-ubah, sedangkan pengetahuan akal bersifat tetap atau tidak
berubah-ubah.
Sebagai
penyelesaian persoalan yang dihadapi Plato tersebut, ia menerangkan bahwa
manusia itu sesungguhnya berada dalam dua dunia, yaitu; dunia pengalaman yang
bersifat tidak tetap, bermacam-macam dan berubah dan dunia ide yang bersifat
tetap, hanya satu macam yang tidak berubah. Dunia pengalaman merupakan
bayang-bayang dari dunia ide. Sedangkan dunia ide merupakan dunia yang
sesungguhnya, yaitu dunia realitas dan dunia inilah yang menjadi “model’ dunia
pengalaman. Dengan demikian, dunia yang sesungguhnya atau dunia realitas itu
adalah dunia ide.
Tentang
Tuhan, Plato mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah bagi manusia yang
tidak pantas apabila tidak mengetahuinya, yaitu:
1) Manusia
itu mempunnyai Tuhan sebagai penciptanya.
2) Tuhan
itu mengetahui segala sesuatu yang diperbuat manusia
3) Tuhanlah
yang menjadikan alam ini dari tidak mempunnyai peraturan menjadi mempunnyai
peraturan.
Menurut
Plato, di dalam negara yang ideal terdapat golongan, yaitu:
1) Golongan
yang tertinggi, terdiri dari orang-orang yang memerintah ( para ingtelektual,
para cendekiawan,para Filsuf).
2) Golongan
pembantu terdiri dari para prajurit, yang bertugas untuk menjaga keamanan
negara dan menjaga ketaatan warganya.
3) Golongan
rakyat biasa, terdiri dari petani, pedagang, tukang yang bertugas untuk memikul
ekonomi begara.
B. Sumber Filsafat Plato
Guru
filsafat yang amat dikagu7mi, dihirmati, dan dicintai Plato ialah Socrates.
Bagi Plato, Socrates adalah guru sekaligus sahabat. Karena itu, tak heran jika
hampir seluruh karya filsafatnya menggunakan “metode sokratik”, yaitu metode
yang dikembangkan oleh Socrates yang dikenal dengan nama metode dialektual
“elenkus”. Metode tersebut terwujud dalam suatu bentuk “tanya jawab” atau
dialog sebagai suatu upaya untuk meraih kebenaran dan pengetahuan. Dari
Socrateslah Plato mengenal nilai-nilai kesusilaan yang menjadi norma-norma
dalam diri dan kehidupan manusia dan etika saja lewat filsafat, untuk kenudia
digunakannya untuk mengetahui segala sesuatu dan menetapkan hakikat dari segala
sesuatu itu.
Tetapi
pada sisi lain, Socrates tidak memberikan kontribusi langsung bagi perkembangan
teori politik Plato. Ia tertarik pada individu, dan secara insidental memiliki
keterkaitan pada negara sebagaui lembaga politik. Secara tidak langsung
warisannya pada filsafat ada tiga; tegaknya p0engujian realitas secara indukatif,
formulasi doktrin bahwa kebaikan adalah pengetahuan, dan ajarannya bahwa ada
tahanan intelektual dan moral yang bisa ditemukan manusia.
Plato
juga dioengaruhi oleh filsuf sebelumnya yang dikenal dengan filsuf
pra-sokratik. Sebelum Socrates. Plato telah belajar filsafat dari Kratilos.
Kratilos adalah murid dari Heraklitos, si gelap (Ho Skoteinas), yang meraih
gelar demikian itu karena pemikiran filsafatnya yang sulit dipahami. Selain
itu, filsafat Plato juga dipengaruhi oleh ajaran para sophis, walaupun lebih
banyak secara negatif, yakni merupakan kecaman terhadap pemikiran para sophis
itu.
C. Dunia Ide
Seluruh
filsafat Plato bertumpu pada ajaran tentang dunia ide. Karenanya, ia dinobatkan
sebagai pemikir idealisme, bukan realisme ataupun empirisme. Plato percaya
bahwa ide adalah realitayang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat
dikenal dengan panca indera. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau
keberadaan ada yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan
atau gambaran yang hampir berada di dalam pemikiran manusia.
Sebagai
realitas yang sebenarnya, kata Plato, ide bersifat subjektif. Keberadaan ide
tidak tergantung pada daya pikir manusia; ide itu mandiri, sempurna, abadi, dan
tidak berubah-ubah. Untuk menjelaskan pikiran filosofinya, Plato membelah
realitas menjadi dua. Pertama, dunia ide. Kedua, dunia bayang-bayang atas
jasmani.
Dunia ide
adalah dunia kodrati, bersifat kekal dan abadi , sementara dunia bayang-bayang
adalah penampakan, cerminan, copy, bayangan dari dunia ide. Apabila dunia
bayang-bayang atau jasmani musna, maka di dunia ide sesuatu itu masih ada.
Pengetahuan di dunia ide tidak akan musnah dengan musnahnya dunia jasmani
pengetahuan di dunia ide akan tetap abadi selamanya.
Dengan
membagi realitas menjadi dua ini, Plato berusaha mempertemukan antara filsafat
ada (parmenidas) dan filsafat menjadi (Heraktilos). Ambil contoh pohon.
Misalnya. Melalui akal budi, ide pohon itu dapat dipahami, sedang melalui
kesaksian indra, terdapatbermacam-macam jenis dan bentuk pohon. Di dunia ide,
hanya dikenal ide tentang pohon (satu dan tetap), tetapi di dunia realitas
terdapat perbedaan, perubahan, dan perkembangan bermacam-macam jenis pohon.
Demikian halnya dengan manusia. Dalam dunia jasmani, dikenal bermacam-macam
jenis manusia, tetapi di dunia ide, hanya ada satu, yaitu ide tentang manusia.
Manusia sebagai makhluk jasmani,pasti akan mati, dan karena itu musnah. Tetapi
di alam ide manusia akan tetap abadi.
D. Perumpamaan Gua
Untuk
memahami filsafat tentang idea itu, kita dapat menggunakan sebuah perumpamaan
yang dapat ditemukan dalam buku ketujuh politeia, yaitu “perumpamaan tentang
gua”. Bayangkan sebuah gua yang didalamnya terdapat sekelompok tehanan yang
tidak dapat memutarkan badan, duduk, menghadap tembok belakang gua. Di belakang
para tahanan itu, di antara mereka dan pintu masuk, ada api besar. Diantara api
dan tahanan (yang membelakangi mereka) ada budak-budak yang membawa berbagai
benda, patung dan lain-lain. Yang dapat dilihat oleh para tahanan hannyalah
bayangan dari benda-benda itu, mereka berpendapat bahwa bayang-bayang itu adalah
realitas sesunggunya. Ia berpaling dan melihat benda-benda yang dibawa oleh
para budak dan api itu. Sesudah ia keluar dari gua dan matanya membiasakan diri
pada cahaya. Ia melihat pohon, rumah, dan dunia nyata di luar gua. Paling akhir
ia melihat keatas dan melihat matahari yang menyinari semuanya. Akhirnya
ini mereka mengerti apa yang dianggap realitas. Ternyata hanyalah bayang-bayang
dari bena-benda yang sesungghnya yang berada diluar gua. Namun, ketika ia
kembali ke dalam gua dan mengajak para tahanan lainnya untuk ikut keluar,
mereka malah marah dan tidak mau meninggalkan gua.
Dengan perumpamaan gua ini, Plato mau memeperlihatkan bahwa apa yang pada
umumnya dianggap kebenaran masih jauh sekali dari kenyataan yang sebenarnya,
dan hanya kalau manusia berani membebaskan diri dari belenggu-belenggunya
dan keluar dari gua itulah ia akan sampai pada kenyataan yang
sesungguhnya.
Plato dengan mengikuti pytagoras, membagi manusia terdiri atas iwa dan badan.
Badan adalah wadah (atau makam) jiwa. Realitas yang sebenarnya adalah jiwa.
Badan hanya bersifat sementara, tetapi jiwa adalah abadi. Jiwa manusia sendiri
merupakan sebuah idea dan mempunnyai eksitensi sebelum turun kedalam badan,
karena itu, melalui daya ingat (anamnesis) manusia dapat memahami alam idea
itu. Ia seakan-akan ingat kembali akan apa yang dulunya dilihat sendiri.
Idea-ide itulah yang dilihat manusia diluar gua.
Apabila orang yang keluar dari gua sudah membiasakan diri pada suasana terang
benderang di alam bebas. Ia akhirnya menyadari bahwa apapun yang dilihatnya
bisa dilihatnya karena disinari matahari. Ia mengangkat matanya ke matahari.
Dengan demikian, Plato menggambarkan puncak kesadaran Filosofis: itulah
kesadaran bahwa idea-idea sendiri terarah pada satu idea beru yang membuat
semua idea itu diminati, yaitu idea yang baik (the idea of good). Idea yang
baik adalah sang baik itu sendiri, realitas tertinggi, sang baik itu adalah
tujuan (telos) dari segala yang ada, segala yang ada mempunnyai dinamika batin,
dinamika hakiki mereka, menuju sang baik itu. Begitu pula manusia,dalam
batinnya ia tertarik kepada tujuannya yang paling tinggi, yaitu idea yang baik
itu. Memandang idea yang baik merupakan kebahagiaan yang tertinggi.
E. Pemikiran Politik
Plato
Tidak ada
penulis klasik yang lebih sering dikutip pemikirannya oleh komentator politik
modern dari pada Plato. Pemikirannya masih memiliki relevensi, elan vital dan
sejalan dengan pemikiran kontemporer saaat ini. Hal yang penting untuk
diketahui dari filsafat politik Plato adalah pemikiran dia tentang negara.
Etika politik yang banyak digaungkan oleh tokoh politik seperti Amien Rais
dengan high politics-nya, atau oleh akademisi Haryatmoko melalui bukunya Etika
Politik dan Kekuasaan (2003) , ternyata Plato beberapa abad lalu telah
melontar lebih dulu dengan menyatakan bahwa etika politik harus menjadi bagian
integral politik dan perlu dikedepankan.
Menurutnya, dalam tiap-tiap negara, segala golongan dan segala orang-orang
adalah alat semata-mata untuk kesejahteraan semuanya. Kesejahteraan semuanya
itulah yang menjadi tujuan yang sebenarnya, dan itupulalah yang menentukan
nilai pembagian pekerjaan. Dalam negara yang ideal itu golongan pengusaha
menghasilkan, tatapi tidak memerintah. Golongan penjaga melindungi, tetapi
tidak memerintah. Golongan cerdik pandai diberi makan dan dilindungi dan mereka
memerintah.
Ketiga macam budi yang dimiliki oleh masing-masing golongan, yakni bijaksana,
berani, dan menguasai diri, itu dapat menyelenggarakan dengan kerja sama budi
keempat bagi masyarakat yaitu keadilan. Oleh karena negara ideal bergantung
kepada budi penduduknya, pendidikan menjadi urusan yang terpenting bagi negara.
Menurut Plato, pendidikan anak-anak dari umur 10 tahunke atas menjadi urusan
negara. Supaya mereka terlepas dari pengaruh orang tuanya. Dasar yang terutama
bagi pendidikan anak-anak ialah Gymnastik menyehatkan badan dan pikiran.
Pendidikan harus menghasilkan manusia yang berani, yang diperlukan bagi calon
penjaga. Di sebelah itu diberikan pelajaran membaca, menulis, berhitung
seperlunya.
Dari umur 14-16 tahun, anak-anak diajarkan musik dan puisi serta mengarang
bersajak. Musik menanam perasaan yang halus dalam jiwa manusia, budi yang
halus. Karena musik, jiwa kenal akan harmoni dan irama. Keduanya adalah
landasan yang baik untuk menghidupkan rasa keadilan. Tetapi perlu dicatat,
dalam pendidikan musik harus dijauhkan lagu-lagu yang melemahkan jiwa dan yang
mudah menimbulkan nafsu buruk. Begitu juga tentang puisi. Puisi yang merusak
moral disingkirkan. Pendidikan musik dan gymnastic harus sama dan seimbang.
Dari umur 16-18 tahun, anak-anak yang menjelang dewasa diberi pelajaran
matematika untuk mendidik jalan pikirannya. Selain itu, mereka juga diajari
dasar-dasar agama dan adab sopan, supaya dikalangan mereka tertanam rasa
persatuan. Plato mengatakan bahwa suatu bangsa tidak akan kuat kalau ia tidak
percaya pada Tuhan. Seni yang memurnikan jiwa dan perasaan tertuju kepada yang
baik dan yang indah. Diutamakan untuk diajarkian kepada mereka, sementara dri
umur 18-20 tahun, pemuda mendapat didikan militer.
Pada umur 20 tahun diadakan seleksi pertama. Murid-murid yang maju dalam ujian
itu mendapat didikan ilmiah yang mendalam dalam bentuk yang teratur. Pendidikan
otak, jiwa, dan badan sama beratnya. Setelah menerima pendidikan ini selam 10
tahun maka diadakan seleksi yang kedua, yang syaratnya lebih berat dan caranya
lebih teliti dari seleksi yang pertama. Yang gagal dapat diterima sebagai
pegawai negeri. Yang maju dan sedikit jumlahnya meneruskan pelajarannya lima
tahun lagi dan dididik dalam ilmu pengetahuan tentang idea dan dialektika.
Setelah tamat pelajaran itu, mereka dapat memangku jabatan yang lebih tinggi.
Kalaumereka sudah 15 tahun bekerja dan mencapai umur 50 tahun, mereka diterima
masuk dalam pengalaman mereka dalam teori dan praktik sudah dianggap cukup
untuk melaksanakan tugas yang tertinggi dalam negara:menegakan keadilan
berdasarkan idea kebaikan. Seperti sudah dikemukakan sebelumnya, bahwa penduduk
negara dapat dibagi menjadi tiga golongan teratas, tengah dan terbawah.
Golongan yang teratas ialah golongan yang memerintah. Terdiri dari para filsuf.
Mereka bertujuaan membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaannya dan mereka
memegang kekuasaan tertinggi. Golongan ini harus memiliki budi kebijaksanaan.
Sebelum para filsuf menjadi penguasa,negeri-negeri sulit untuk menghindar dari
kejahatan-kejahatan. Golongan menegah adalah para pegawai dan abdi negara.
Tugas mereka adalah mempertahankan negara dari serangan musuh dan menegakan
berlakunya undang-undang supaya dipatuhisemua rakyat. Golongan ketiga adalah
golongan terbawah atau rakyat pada umumnya. Mereka adalah kelompok yang
produktif dan harus pandai membawa diri.
Konsepsi untuk menciptakan suatu negara ideal merupakan implikasi filosofis dan
doktrinnya tentang idea. Tujuan hidup Plato dapat dilihatdari obsesinya tentang
wujud sebuah negara yang ideal, teratur serta mencakup didalam masyarakat yang
berpendidikan. Pandangan negara ideal ini dicetuskan oleh Plato setelah melihat
sistem pemerintah Athena di zamannya yang kurang stabil disebabkan sering berganti-gantinya
sistem Aristokrasi. Oligarki maupun demokrasi yang cenderung kurang memberikan
kebahagiaan bagi masyarakat.
Menurut
Plato, sistem pemerintah haruslah didasari oleh idea yang tertinggi yaitu idea
kebaikan, kemauan untuk melaksanakan itu tergantung pada budi. Tujuan
pemerintahan yang benar ialah mendidik warga negara mempunnyai budi yang hanya
bersumber dari pengetahuan. Oleh karena itu, ilmu harus berkuasa di dalam suatu
negara. Itulah sebabnya Plato menyatakan bahwa kesengsaraan dunia tidak akan
berakhir sebelum filosof menjadi raja atau raja-raja menjadi filosof. Kita,
kata Plato, tidak dapat mengharapkan negara menjadi lebih baik apabila
orang-orang yang berkuasa tidak berperilaku baik.
Oleh
karena itu, negara harus bebas dari para penguasa dan para pemimpin yang rakus
dan jahat. Dalam negara ideal Plato, semua orang harus hidup denga moralitas
yang baik dan terpuji. Apalagi mereka yang berkuasa dan yang memerintah, bukan
saja harus memiliki keempat kabajikan pokok yang mengendalikan dan yang
menuntun ketiga bagian jiwa mereka yang sebenarnya, merupakan karakter dan
sifat-sifat dasar dari moralitas dasar dan terpuji itu.
Dalam
konteks semacam ini, hanya orang-orang yang sanggup berpikir secara filsafati
yang dapat disebut arif dan bijaksana serta hanya kepada ornag-orang yang
demikian itulah segala macam urusan pemerintah dapat dipercayakan. Hukum
merupakan sebagian dari pengetahuan yang dimiliki oleh filsuf. Oleh sebab itu,
ia tidak tunduk pada hukum. Hukum memang baik bagi yang diperintah sejauh
ia dinilai baik oleh filsuf raja. Filsuf raja adalah orang bijaksana yang
memiliki moralitas dan pengetahuan yang tinggi maka tidaklah beralasan bagi
seseorang untuk merasa khawatir bahwa pada suatu saat nanti para filsuf raja
akan menyalahgunakan kebebasannya (abuse of power) terhadap hukum tersebut.
Itulah
sebabnya di dalam karya Republic tidak tampak adannya upaya Plato untuk
menyusun undang-undang tertulis. Sikap Plato yang demikian itu merupakan akibat
logis dari filsafatnya. Sebab, apabila pengetahuan yang dinobatkan menjadi yang
mulia, yang berada diatas tahta pemerintahan maka segala sesuatu yang lain
termasuk hukum haruslah turun kedudukan selaku pembantu dari pihak yang berada
diatas tahta itu. Menurut Plato, kebenran ilmu politik meskipun cukup
subjektif, perlu dipelajari sebagai bahan perbandinagn atas ilmu-ilmu lainnya.
Sebagian besar dari para filsuf memang membahas filsafat politik. Tokoh
utamanya adalah Plato, walaupun beliau mempunyai guru dan murid. Plato menerima
ajaran guru besarnya Socrates dan Pytagoras yang masing-masing mengajarkan
bahwa:
“kebajikan itu berisi pengetahuan tentang yang
baik-baik. Oleh karena itu, bagaimana membangun negara dan pemerintahan agar
didalamnya orang tertarik pada kebajikan tersebut, dengan demikian pelaksanaan
pemerintahan mengacu pada agama, kepercayaan yang transedental ruhaniah, dan
metafisika."
Kebajikan
itu abstrak sifatnya, tetapi ilmu pengetahuan tentang yang abstrak lebih nyata
dibandingkan ilmu pengetahuan yang terwujud di dunia empiris, sekalipun hal itu
adalah pengalaman yang terlihat dan merupakan realita yang bisa ditangkap
dengan indah karena pendapat ini tidak bertolak belakang.
dalam
bukunya Republik, Platomengemukakan postulas utopia pertama memiliki kekuatan
nalar yang besar dan kekuasaaan untuk memerintah. Dalam buku tersebut, Plato
malah menguraikan lebih dahulu mengenai keadilan. Pertama-tama , Plato
mengemukakan bahwa keadilan merupakan kebijakan penting sebuah negara yang sama
pentingnya dengan kebijaksanaan individu. Karenanya , Plato menegaskan bahwa
hakikat keadilan daan ketidakadilan harus dilacak demi menegakan imperium yang
bernama negara secara sempurna.
Lebih
dari itu, Plato juga membicarkan tentang bentuk pemerintahan ideal yang
ditandai dengan kebenaran sebagai realtias sesungguhnya dan seharusnya ia
mengikuti kenyataan. Jadi. Bila kita menafsirkan teori ini, terjadinya
penindasan, pemerkosaaan, dan perampokan, dll terjadi. Dalam benak Plato
tersimpan pemikiran yang bersumber dari pengalaman nyata tatkala menyaksikan
gurunya, Socrates, dipaksa minum racun. Lalu, ia menyimpulkan bahwa pemerintah
yang berkuasa pada saaat itu sangat buruk, sebab gurunya yang paling bijak.,
jujur, dan baik malah dibunuh dengan memaksanya meminum racun. Darilatar
masalah inilah lalu keluar teori-teori besarnya tentang negara ideal.
Paradigma
inikemudian bergeser ke arah yang lebih rasionalis, hingga memunculkan beragam
pertannyaan kritis, antra lain:”Apakah kecerdasan itu berasal dari tuhan?”,
Mengapa tuhan memisahkan diri dari kehidupan?”,”Mengapa Tuhan menciptakan
keburukan?”Plato sendiri sebenarnya sadar bahwa alam pemikirannya ini tidak
dapat direalisasikan dalam kenyataan politik pemerintah. Dalam perjalanan masa
yang panjang ini, hanya seketika masyarakat dapat mempertahankan diri dalam
keadaan yang adil dan seperti biasanya, setelah itu semakin merosok dan
akhirnya runtuh. Sama halnya para sejarawan menyimpulkan bahwa fase kehidupan
manusia dimulai sejak masa lahir, remaja, dewasa, kemudian mati.
Namun
demikian, Plato sudah berusaha mencoba menunda proses keruntuhan itu dengan
berbagai buah pikirannya. Muridnya sendiri, Aristoteles, sudah berpendapat
bahwa kebenaran itu hanya sebjektif sifatnya. Oleh karena itu, benar bagi satu
pihak, belum tentu benar bagi pihak lain. Sebab, pendapat dipengaruhi pikiran
dan latar sosio-historis dengan segudang perbedaan dalam berbagai dimensi ruang
dan waktu yang melingkupinya. Itulah barangkali yang membuat Aristoteles
menyetujui dan merendahkan kaum wanita.
Last but
not lest, dalam buku ini yang perlu diapresiasi
lebih lanjut adalah pemikiran politik Plato tentang Raja Filsuf, Raja perdana
menteri atau presiden seharusnya dipilih dari kalangan filsuf. Ya . filsuf
menjadi Raja. Namun , jangan dipahami secara taken fron granted bahwa
seorang pemimpin negara harus berwacana saja, lebih dariitu dia harus bijak,
adil, dan tertindas. Penghormatan Plato bagiseorang filsuf hingga jadi Raja
memang luar biasa akhirnya ia pernah berkata bahwa “ Negara akan mendirikan
berbagai monumen untuk menghormati negara mereka (raja filsuf). Dan berbagai
pengorbanan akan dipersembahkan untuknya, karena mereka adalah orang-orang
setengah dewa, karena mereka orang-orang yang diberkahi, yang Kudus yang
diberkahi Kudus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar